
Bondowoso, 25 Agustus 2026, Sebuah sekolah tidak hanya dikenal dari ruang kelasnya. Kadang, ia dikenal dari cara muridnya melihat sesuatu yang ada di sekitar, kemudian mengubahnya menjadi sebuah gagasan. Di SMKN 1 Tapen, cara pandang itu kembali terlihat melalui karya tiga murid yang membawa persoalan lingkungan dan kekayaan budaya Bondowoso ke ruang kompetisi.
Ada Aril Andianto dan Sindi Maulana Ishak dari Tim Alchemist yang melihat ampas tebu dengan cara yang berbeda. Ada pula Diniatus Safa Aliyin yang memilih tape Bondowoso sebagai cara untuk berbicara tentang budaya lokal di tengah derasnya perkembangan dunia digital. Keduanya berangkat dari sesuatu yang sangat dekat. Namun, dari tangan ketiga murid tersebut, sesuatu yang dekat itu kemudian dibawa menjadi gagasan yang lebih jauh.
Aril dan Sindi berhasil meraih Juara 3 Essay Competition “Youth Action For Sustainable Future” melalui gagasan KANETA ROOF. Esai tersebut mengangkat pemanfaatan ampas tebu sebagai bahan alternatif pembuatan genteng. Bagi masyarakat Bondowoso, tebu bukan sesuatu yang asing. Industri gula menjadi bagian dari kehidupan daerah, dan dari proses tersebut muncul ampas tebu dalam jumlah besar. Persoalannya kemudian sederhana: bisakah sesuatu yang selama ini dipandang sebagai limbah memiliki kehidupan kedua? Pertanyaan itulah yang menjadi pintu masuk Tim Alchemist. Mereka tidak berhenti pada gagasan bahwa limbah harus dimanfaatkan. Mereka mencoba membawanya ke bentuk yang lebih konkret melalui purwarupa KANETA ROOF. Ampas tebu dikembangkan bersama sejumlah bahan pendukung menjadi material genteng, kemudian diuji dalam tahap awal. Cara berpikir seperti itulah yang kemudian membawa gagasan mereka meraih Juara 3.
Di sisi lain, Diniatus Safa Aliyin mengambil jalur yang berbeda. Ia tidak berbicara tentang limbah atau material bangunan. Ia berbicara tentang sesuatu yang mungkin jauh lebih akrab bagi masyarakat Bondowoso: tape.

Dalam B-STAR FEST 2026 Digital Poster Competition bertema “Where Canvas Meets Consciousness”, Diniatus mengangkat karya “Budaya Lokal, Koneksi Global” dengan subtema Social-Connection (Sosial & Budaya). Tape Bondowoso menjadi pusat pesan dalam karyanya. Namun, ia tidak berhenti pada upaya memperkenalkan sebuah produk khas daerah. Diniatus mencoba mengajukan pertanyaan lain: bagaimana budaya lokal tetap memiliki tempat ketika kehidupan generasi muda semakin dekat dengan dunia digital? Jawabannya ia tuangkan melalui visual yang mempertemukan tape, generasi muda, media sosial, jaringan koneksi, dan perangkat digital. Pesannya jelas: teknologi tidak harus membuat budaya lokal tersisih. Teknologi justru bisa menjadi jalan agar budaya semakin dikenal. Melalui ajakan “Klik, Bagikan, Kenalkan Budaya Lokal!”, Diniatus menempatkan generasi muda bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai orang-orang yang dapat ikut memperkenalkan identitas daerahnya.
Di titik ini, karya Aril, Sindi, dan Diniatus sebenarnya bertemu. Mereka sama-sama menunjukkan bahwa sesuatu yang lokal tidak berarti kecil. Ampas tebu yang mungkin selama ini hanya dianggap sisa ternyata dapat menjadi bahan yang menginspirasi sebuah gagasan inovasi. Tape yang selama ini dikenal sebagai makanan khas Bondowoso dapat menjadi cerita tentang budaya lokal diperkenalkan melalui teknologi digital. Dari sana terlihat bahwa kreativitas tidak selalu dimulai dari sesuatu yang spektakuler. Kreativitas sering kali dimulai dari kemampuan untuk memperhatikan. Memperhatikan apa yang terjadi di sekitar. Bertanya mengapa sesuatu terjadi. Kemudian mencoba melihat kemungkinan lain.
Bagi Kepala SMKN 1 Tapen, Nur Yakuti, proses seperti inilah yang membuat capaian para murid memiliki arti penting.
“Kami tentu bangga dengan prestasi yang diraih anak-anak. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mereka belajar melihat persoalan, menemukan ide, kemudian berani membawa ide itu ke ruang kompetisi. Aril, Sindi, dan Diniatus menunjukkan bahwa potensi siswa bisa muncul ketika mereka diberi ruang untuk mencoba dan berkarya,” ungkap Kepala SMKN 1 Tapen.
Menurutnya, sekolah akan terus mendorong para murid untuk tidak takut mencoba sesuatu yang baru.
“Kompetisi bukan hanya soal menang atau kalah. Anak-anak mendapatkan pengalaman untuk berpikir, bekerja sama, menyampaikan gagasan, menerima masukan, dan memperbaiki karya. Proses seperti ini yang akan membentuk mereka menjadi pribadi yang kreatif, adaptif, dan percaya diri,” lanjutnya.
Ia berharap prestasi tersebut dapat menjadi pemantik bagi murid lainnya untuk berani mengembangkan ide yang mereka miliki.
“Kami ingin semakin banyak murid Kaneta yang berani menunjukkan karyanya. Tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa dari persoalan yang ada di sekitar mereka, dari potensi daerah, atau dari hal sederhana yang selama ini mungkin tidak diperhatikan. Yang penting adalah kemauan untuk mencoba dan terus belajar,” pungkasnya.
Bagi SMKN 1 Tapen, prestasi ini bukan sekadar tambahan daftar kejuaraan. Ada cerita yang lebih besar di baliknya: murid yang sedang belajar bahwa lingkungan tempat mereka tumbuh dapat menjadi sumber ide, dan ide yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh dapat menemukan tempatnya di ruang yang lebih luas.
Aril dan Sindi membawa ampas tebu ke dalam percakapan tentang inovasi dan keberlanjutan. Diniatus membawa tape Bondowoso ke dalam percakapan tentang budaya dan dunia digital.
Dua karya itu berbeda. Tetapi pesan yang ditinggalkannya sama: Jangan meremehkan apa yang ada di sekitar kita. Bisa jadi, dari sanalah gagasan besar dimulai. Dan dari Tapen, gagasan-gagasan itu kini mulai berbicara lebih jauh.
Selamat kepada Aril Andianto, Sindi Maulana Ishak, Tim Alchemist, dan Diniatus Safa Aliyin. Terus melihat, terus mencoba, dan terus berkarya. Karena Kaneta tidak hanya ingin melahirkan siswa yang mampu menjawab soal, tetapi juga generasi yang mampu menemukan persoalan dan menawarkan jawabannya.
SMKN 1 Tapen — BERKILAU melalui gagasan, karya, dan prestasi.